Wednesday, May 4, 2011

Cerita Tentang Ibu

Cerita Tentang Ibu
By : Disa Putri Sabilla

Ibuku?
Yang aku tau, beliau perempuan dengan sejuta cinta

matanya...
coklat indah seperti hamparan padang pasir nan luas
dan aku selalu bermain disana

hidungnya...
seperti perosotan yang selalu aku mainkan sewaktu TK
tidak seperti para warga kulit putih di bagian dunia sana memang

kulitnya...
aku pikir itu awan
putih lembut dan sentuhannya penuh kasih

keringatnya...
itu bagianku!
sekarang hanya mampu aku bayar dengan lantunan Al-Fatihah dalam shalatku

Senyumannya...
jauh lebih hangat daripada muffin buatannya
yang baru keluar dari oven
ah ya!

Air matanya...
itu hidupku!
aku rela mengganti air matanya dengan hidupku walaupun aku rasa itu belum cukup

Suaranya...
siapa penyanyi dengan suara merdu, menurutmu?
aku bersumpah, ibuku punya suara yang jauh lebih menenangkan
tentu saja!

Masakannya!
siapa yang tak suka masakan ibu?
aku tidak tau bumbu rahasia apa yang dicampurkan ibu,
rasanya? sempurna.

Tentu saja ibu, harum tubuhmu...
aku tau itu harum sungai-sungai yang dijelaskan tuhan dalam Al-Qur'an

Kakinya...
surga di telapak kaki ibu,
Bagiku, surga itu ibuku, tidak hanya di telapak kakinya
beliau sederhana. sangat sederhana malah

riasan diwajahnya cukup hany auntuk membuatnya terlihat cerah, tidak berlebihan

Dan tutup Kepalanya..
itu simbol keislamannya
simbol tanggung jawabnya pada Tuhan dan keluarga

Maafkan aku ya ibu,
aku hanya onggokan seluar yang nyaris saja merenggut hidupmu dan membuatmu tersiksa kala 9 bulan itu

mungkin aku tak sebaik anak teman-temanmu
tapi aku janji, bu
aku berikan yang bisa aku berikan
aku yakin ibu tidak akan mencelaku

Kau tau sesosok perempuan yang lebih hangat dari semangkuk sup kala hujan?
itu IBUKU!

dan kau tau sesosok perempuan renta tapi lebih kuat daripada badai yang melumpuhkan akar pohon beringin?
itu IBUKU!

tentu saja ibu...
aku sudah berbisik pada Tuhan untuk menyisakan tempat untuk mu dan keluarga kita
di surga

sampai bertemu lagi ya,
ibuku

sesederhana tanda tanya dalam ujung kalimat tanpa jawab